Short Story : Surat Yang Datang


 Hai! I have wrote a short story about teen-romance. My short story under the title "Surat Yang Datang" is my first story. So i hope you enjoying my story. If there any mistakes, please forgive me. Thank you for reading!

Here We Go!

Surat Yang Datang

Kamu tahu? Sejak kamu pindah sekolah, aku jadi bingung mau ngapain ketika istirahat. Setiap kali istirahat kamu selalu temenin aku ke kantin dan ngobrol di kelas. Sekarang kamu gak ada, gak ada juga yang bisa aku ajak ngobrol lagi. Kuharap kita bisa segera ketemu lagi, as soon as possible. Love you, Andra.

          Akhirnya kuselesaikan surat yang ke-12. Hampir setiap minggu aku menulis surat untuk pacarku, Andra. Agaknya seluruh penutup suratku merupakan tentang kondisiku setelah Andra pindah dari sekolah. Aku menuliskannya agar ia tahu bahwa aku rindu padanya. Untuk menyakinkan itu suratku selalu diakhiri ungkapan rasa cinta yang datang bersamaan dengan surat itu.

          Andra adalah seorang anak laki-laki tinggi yang menjabat sebagai ketua kelas. Andra dan aku berkenalan ketika kita duduk di kelas sebelas di kelas yang sama. Andra begitu baik dan ramah yang membuatku jatuh hati padanya. Kukira hanya aku yang punya rasa, ternyata setelah beberapa hari ia mengungkapkan perasaannya padaku. Sejak saat itu kita resmi berpacaran. Namun, beberapa bulan kita berpacaran Andra dipindahkan oleh orang tuanya dengan alasan sekolah yang lebih maju dan terpandang. Karena itulah kuputuskan untuk selalu menulis surat padanya agar kita tidak putus kontak meskipun harus LDR

          Aku selalu menulis surat di kamarku agar aku bisa lebih nyaman dan nggak malu kalau seandainya secara tiba-tiba kakakku mendapatiku sedang menulis surat dan menganggapku bucin tingkat dewa. Akhirnya aku menulis surat dikamar dengan segala ketenangan hati. Terkadang aku mengunci pintu kamar untuk berjaga-jaga jika kakakku ingin bicara agar aku bisa bersiap-siap dan segera menyembunyikan suratku. Tapi hari ini berbeda…

          “Andin! Kamu ngapain?” kakakku dengan tiba-tiba masuk dan dengan segera aku mengusap muka. Aku lupa mengunci pintu. “hayo…kamu nulis surat buat siapa lho, sini kakak lihat!” kakakku merebut surat ditanganku.

          “Kak Anggi! Sini balikin!” seruku

          “Untuk Andra tercintaah…emmm, siapa nih Andra? Kamu kok gak pernah cerita?” tanya kakakku. Sebelum aku menjawab, kakak sudah menyahut “oh…ini sudah pasti pacar nih, kamu tuh masih kecil udah pacaran aja…”

          “Aku udah besar kak! Aku udah kelas sebelas!” sahutku.

          “hahahaha, udah besar apa, nyuci aja masih dicuciin… yaudah mau cerita?”

          “engga ah gamau.” Kataku. Kakak mengerutkan keningnya.

          “btw, kenapa masih pake surat? Kan udah ada sosmed.” Kata kakak

          “gakpapa” jawabku ketus

          “hemmm…kenapa sih? Cerita aja, kakak nggak akan bilang bunda.”

          “kakak pernah diceritain bunda nggak si? Gimana bunda dulu pacaran sama ayah. Mereka kirim-kiriman surat dan menurutku itu lucu aja kayak lebih romantis gitu.”

          “ih…lucu banget adekku ini, udah tau pacaran…hahaha” kakak tertawa dan itu membuatku sedikit malu.

          Untuk mengalihkan keadaan, aku mengambil suratku dan mulai mengemasnya. Biasanya aku mengemasnya menggunakan amplop hitam sesuai dengan warna kesukaan Andra.  Setelah kumasukkan amplop, aku juga menggunakan selotip bermotif dan perangko bergambar moge yang menjadi favorit Andra. 

        “memangnya Andra orang mana? Kalian ngga satu sekolah?” tanya kakak setelah aku selesai mengemas.

          “dulu satu sekolah sekarang udah beda sekolah” jawabku

          “ooh…dia pindah…keluar kota?”

          “ngga, masih satu kota. Cuma beda daerah aja.”

          “ya ampun…masih satu kota. Kenapa gak ketemuan aja?” tanya kakakku lagi.

          “alasan pertama, Andra pindah ke sekolah terpandang yang super sibuk. Kedua, pernahkah bunda ijinin aku keluar rumah? apalagi ketemuan ama cowok.” Jawabku lagi.

          “betul juga, tapi kamu kan bisa bilang kerja kelompok atau hal lainnya tentang sekolah.” Kata kakakku.

          “eh…aku nggak seperti kak Anggi ya, suka boong.” Jawabku sedikit menggoda.

          “eh…kakak juga yang kena!” jawab kakakku.

          “yaudah kak, bentar…aku ngirim surat ini dulu” kataku sambil berjalan menuju pos satpam.

          Sesampainya di pos satpam, terlihat pak Harto sedang duduk santai sambil mendengarkan musik. Pak Harto merupakan satpam rumah yang sudah bekerja lima tahun dirumahku. Pak Harto tidak pernah memihak salah satu anggota keluarga saja tetapi seluruh anggota menjadi prioritasnya. Dengan itu aku memanfaatkan pak Harto untuk mengirimkan suratku menuju rumah Andra.

          “pak Harto!” sapaku dari teras rumah sembari menghampirinya.

          “oh…enjeh non, ada apa?” jawab pak Harto

          “ini pak, seperti biasa. Saya minta tolong kirimkan surat saya ke rumah temen saya yang biasanya itu pak. Masih inget kan pak?” kataku menjelaskan.

          “inget non. Rumahnya mas Andra kan ya non?” tanya pak Harto dengan suaranya yang besar.

          “ssstttt… pak jangan keras-keras. Iya pak betul. Tolong dikirim ya” kataku.

          “baik. Non” jawab pak Andra sambil menganggukkan kepala. “ngomong-ngomong non, barusan ada kang gojek dateng, dia nitipin surat katanya dari Andra Dinara. Itu suratnya ada di saya.” Lanjut pak Harto

          “ha? Serius pak? Coba liat pak.”

          “baik non, sebentar” pak Harto masuk kedalam pos dan mengambil sebuah surat dengan amplop berwarna pink. “ini non suratnya.”

          “terimakasih pak!” aku tersenyum dan segera kembali menuju kamar.

          Kali ini aneh, Andra tidak pernah mengirim surat sebelum aku mengirim surat dahulu tapi kali ini ia mengirim suratnya sebelum aku. Mengetahui hal ini, aku terkejut sekaligus senang. Aku segera kembali ke kamar dan mengunci pintu.

          Karena saking senangnya, aku tidak sadar kalau kakak masih ada didalam kamar. Kakak sengaja menunggu aku sambil tiduran. Aku tidak menghiraukannya karena aku terlalu bahagia. Aku segera duduk di kursi dan membaca surat itu. Kakakku yang ingin tahu segera menghampiri dan duduk disampingku. Akhirnya kita berdua mulai membaca surat dari Andra Dinara.

Dear My Lovely, Andin Sukmawita.

Nggak akan kuisi surat ini banyak-banyak. Aku hanya ingin kamu tahu kalo aku sayang kamu. Kamu pastinya sudah tahu kalau aku cinta kamu lebih dari apapun. Setiap surat yang aku kirim ke kamu pasti mengandung cinta. Cintaku padamu akan terus bertambah bersamaan dengan surat yang datang. Disini, di surat ini aku hanya pengen bilang, aku kangen kamu. sangat kangen.

Berhubung ini hari Sabtu, aku pengen ajak kamu malam mingguan keliling kota. Kalo kamu mau segera telepon aku yaa. Aku tunggu jawabanmu.

I LOVE YOU, ANDIN SUKMAWITA.

Andra Dinara

          Sesungguhnya malam ini aku tidak ada kegiatan. Namun, bunda pasti tidak akan mengizinkan. Untuk sekarang yang aku butuhkan adalah bantuan dari kakak. Aku meminta kakak untuk membantuku meminta izin.

          “kak, kakak mau bantu aku kan?” tanyaku

          “boleh dek, tapia da imbalannya ya, hehe” jawab kakakku

          “duh kak! Yaudah deh boleh, mau apa?” tanyaku lagi

          “kakak cuma pengen dikenalin sama Andra, boleh kan?”

          “hadeh kak! Yaudah deh boleh”

          “baiklah, kebetulan nih kakak malam ini juga mau keluar, kita nanti minta izin mau jalan-jalan aja, hanya kita berdua. Oke?

          “oke kak!” wajahku sungguh sumringah.

          Untuk pertama kalinya aku akan pergi jalan-jalan dengan Andra karena itu aku harus menjadi yang terbaik dimatanya. Demi cintaku. Demi Andra-ku. Malam ini akan menjadi malam yang menakjubkan. Malam ini akan menjadi puncak dari surat-surat yang datang dan pergi. Malam ini akan menjadi malam yang panjang, lebih panjang dari semua surat yang kutulis. Cintaku bersama surat yang datang akan terbayarkan malam ini.







 


Komentar

Postingan Populer