Olif Sang Puteri Lautan

 


Olif namanya. Ia adalah putri tunggal seorang janda bernama Vina. Entah ia anak kandung atau adopsi, sebab tidak ada kemiripan sama sekali ia dengan Vina. Jika Vina bertipikal kulit coklat manis, Olif malah berkulit cerah. Mereka berdua tinggal di sebuah apartemen sederhana di jantung kota. Walau hanya hidup berdua, walau tidak jelas asal usulnya, nampaknya Olif hidup bahagia bersama Vina.

Akhir-akhir ini Vina sering mengingatkan Olif untuk selalu membawa payung ketika berangkat sekolah guna berjaga-jaga kalau saja hujan turun.

Saat ini adalah musim hujan. Maka tidak dipungkiri jika Vina khawatir putrinya itu kehujanan. Namun seringkali Olif merasa tidak perlu diingatkan, padahal ia beberapa kali lupa membawa payungnya.

Hari ini Olif terburu-buru mengejar waktu karena ia telat bangun. Ia bergegas mandi—tidak sampai sepuluh menit, lalu mengganti pakaiannya dan kemudian memakan sarapannya. Setelah itu, ia tergopoh-gopoh mencari dasinya yang entah hilang kemana. “Mama dasiku dimana, ma?”

“Di tempat biasanya. Laci televisi, Olif.” Vina berteriak dari dalam kamar mandi, ia sedang mencuci baju.

Olif membuka laci di bawah televisi. “Ketemu!”

“Olif, jangan lupa membawa payung. Hujan sedang marak turun. Mama tidak mau kau kehujanan terus kemudian sakit.” Vina mengingatkan Olif. Ia masih berada di kamar mandi.

Olif tak sempat menjawab karena waktu semakin mepet. Ia sudah berada di jalanan.

Sakit. Menjadi alasan yang selalu rasional bagi Olif. Ia hanya tahu kalau dirinya kehujanan maka ia akan sakit, begitulah yang selalu Olif dengar dari mamanya. Sebenarnya itu masuk akal bagi Olif bahwa mamanya tidak ingin anak semata wayangnya jatuh sakit. Namun apakah hanya sesederhana itu alasan Olif tidak boleh kehujanan?

Hujan seakan menantang Olif untuk bermain dibawahnya. Hampir setiap hari sepulang sekolah suara rintik hujan seakan memanggil namanya. Ia ingin sekali merasakan hujan tapi mengingat seruan keras dari Vina, ia mengurungkan niatnya. Pada akhirnya, ia selalu membuka payungnya dan menikmati suara hujan yang menetes di payungnya.

….

Sepulang sekolah.

Pembelajaran hari ini berjalan lancar. Olif sungguh semangat mendengarkan penjelasan-penjelasan dari guru meski tadi pagi ia sedikit terlambat. Ia sudah meminta maaf akan itu.

Menjelang pelajaran terakhir, semangat Olif menurun. Sekarang adalah waktunya pelajaran matematika. Suasana hening ketika pelajaran berlangsung. Mendung menyebabkan kelas lebih gelap. Beberapa orang murid bahkan sudah tertidur di mejanya. Hanya satu dua murid yang duduk paling depan yang sigap menyimak angka-angka di papan putih. Sedangkan Olif—ia tidak suka matematika, ia baru saja menguap dan sejenak tertidur.

KRINGGG!

Tiba-tiba bel berbunyi, menandakan waktu pelajaran sudah berakhir.

Olif sontak terbangun. Beberapa murid yang tadi tertidur juga kaget kemudian mengumpat pelan. Guru matematika tadi nampak tak peduli. Ia lantas melangkah keluar kelas setelah mengucap salam.

Hujan telah turun deras sekali di luar sana, Olif melihatnya dari jendela. Ia nampak tenang. Ia merasa telah memasukkan payungnya kedalam tas. Namun ketika ia meraba kedalam tasnya, tidak ada payung disana. Sekali lagi ia mencarinya, tetap tidak ada. Kemudian ia ingat bahwa ia belum memasukkan payung lipat dalam tasnya. “Alamak!” Katanya.

Mengetahui hal ini, Vina pasti sedang khawatir dan bergegas menjemput Olif di sekolah. Olif tidak punya pilihan lain selain menunggu dijemput. Ia tidak bisa begitu saja menerobos hujan. Hal itu hanya akan membuat mamanya itu marah besar. Jadi Olif memutuskan untuk duduk menunggu dijemput.

Lima belas menit menunggu, akhirnya Vina datang membawa dua payung—satu dipakainya dan satu lagi digenggamnya, memasuki gerbang sekolah. “Olif! Tuh kan kamu lupa membawa payung,” teriaknya setelah ia sudah lebih dekat.

Olif menunduk.

“Lain kali kalau terburu-buru jangan sampai lupa membawa payungmu. Yasudah, ayo segera pulang.”

Vina dan Olif pun akhirnya berjalan pulang dibawah payung membelah hujan.

….

Setelah sampai di rumah.

“Olif segera masuk kamar mandi. Ini waktunya kamu mandi. Sebentar lagi mama menyusul,” kata Vina sembari meletakkan tas dan sepatu Olif pada tempatnya.

Olif segera masuk kamar mandi. Kemudian melepas seragamnya. Bak mandi untuk berendam Olif sudah terisi setengah penuh. Agaknya Vina telah menyiapkannya bahkan sebelum Olif pulang. Olif lalu masuk dan tubuhnya sepenuhnya terendam air.

Pintu diketuk, Vina masuk.

“Olif, bagaimana? Belum bereaksi ya? Hmmm…”

Olif menatap Vina kebingungan. Vina berjongkok di tepian bak mandi.

“Olif sekarang pejamkan matamu dan masukkan seluruh tubuhmu, juga kepalamu, sepenuhnya ke dalam air,” Vina menginstruksikan.

Kemudian tanpa bertanya, Olif melakukan itu. Kepalanya masuk ke air. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Hingga beberapa menit kedepan, Olif merasa tidak apa-apa. Ia baru saja menyadari kalau ia bisa bernafas di dalam air.

“Olif sudah cukup. Keluarlah.” Vina menarik Olif. “Sekarang angkat kakimu Olif.”

Olif melakukannya. Kakinya keluar dari air. Kemudian ia terkesiap. Ia memelotot dan tidak bisa berkata-kata. Apa yang baru saja dilihatnya tidak bisa masuk akal sehat manusia biasa. Olif berkedip dan menyadari kakinya telah berubah menjadi sebuah sirip berwarna neon yang indah.

Vina mengusap kepala Olif. “Bagus Olif. Sekarang kau sudah tahu jati dirimu,” Vina mengusap sirip itu. “Kaulah yang berharga, kaulah puteri lautan yang sangat dicari baik manusia ataupun bangsamu sendiri. Kaulah Olif Martha-Lluna sang Puteri Lautan.”


Komentar

Postingan Populer