Dongeng Sir Isaac Newton


Cerita Umum

Ketika Sir Isaac Newton duduk dibawah pohon karena kegabutannya pada saat wabah menyerang, beberapa buah apel berjatuhan di kebun apelnya. Ia yang heran pun menjadikan momen itu sebagai acuannya manggapai kepopuleran dan kepintarannya. 

Cerita Tak Umum

Pada suatu masa, hiduplah seseorang lelaki bernama Isaac Newton di sebuah desa yang indah.

Isaac merupakan anak dari seorang saudagar kaya yang sangat terkenal di desanya. Selain karena kekayaannya, Isaac juga terkenal karena kepintarannya yang melebihi manusia biasa. Isaac sangat antusias dan memiliki jiwa ingin tahu yang besar. Isaac juga suka berpikir keras dan berhitung (yang kini malah menyusahkan anak SMA).

Suatu hari, orang tuanya sedang pergi ke luar kota untuk berbisnis. Isaac yang sendirian dirumah merasa bosan. Karena itu, kemudian Isaac pergi ke sebuah bukit di tepu desa dengan sebuah pohon apel tumbuh di sana.

Dengan sangat antusias, Isaac pergi tanpa lupa dengan sebuah buku dan pensilnya.

Di sana ia duduk, mengamati sekitarnya dan mulai menggambar di bukunya. Isaac menggambar desanya dari sudut atas bukit.

Ketika gambarannya sudah setengah selesai, kepalanya tiba tiba pusing. Matanya berat dan berair.

Membuatnya tidak bisa melanjutkan gambarnya. Isaac berhenti sejenak, berdiri dan meregangkan otot. Sebuah apel jatuh karena tidak sengaja tersenggol tangannya. Dan seketika pandangannya gelap, hanya gelap.

Beberapa menit berada di kegelapan, Isaac tidak bisa berpikir. Tiba tiba sebuah cahaya putih menyilaukan matanya. Isaac menutupi matanya dengan tangannya, menghalau kilauan cahaya. Isaac kebingungan apa dan darimana cahaya ini berasal. Ketika Isaac kembali membuka matanya terkejutlah Isaac dan terjatuh.

“Halo Isaac,” seorang perempuan berbadan putih, rambut putih, matanya biru berkilau dan sayapnya mengepak, menyapa. Kemudian ia menjulurkan tangannya hendak membantu Isaac berdiri.

Isaac tidak menerima juluran tangan perempuan itu. Isaac berdiri segera dalam ketakutan. “S-siapa kau?!”

“Hai Isaac, perkenalkan aku Athena,” katanya.

Isaac hanya berkedip beberapa kali, masih dalam keadaan takut. Kini tangannya mencengkeram erat pohon apel dibelakangnya.

“Tenanglah Isaac dan lepaskan pohon malang itu,” Athena menunjuk pohon apel yang dicengkeram Isaac. “Ternyata kaulah orang yang menjatuhkan sebuah apel dari pohon ini. Apa alasannya Issac?”

“A-aku tidak sengaja menjatuhkannya,” balas Isaac dengan nada ketakutan.

“Oh begitu…” Athena meraih tangan Isaac, mengelapnya perlahan. Sebuah cahaya putih keluar dari usapan tangan Athena dan Isaac menjadi lebih tenang. “Sebelum aku menghukummu, aku ingin kau tahu bahwa pohon dan segala yang ada di bukit ini adalah milikku. Maka ketika kau menjatuhkan atau merusak apapun disini, kau akan kuberi hukuman.”

“Hei! Siapa kau berani menghukumku? Aku bahkan tidak tahu kalau kaulah pemilik pohon dan bukit ini. Satuhuku bukit ini milik desaku, dan bagi siapapun yang ingin berada disini dan makan apel disini tidak perlu mendapatkan izin terlebih dahulu. Baik dari manusia ataupun dewa, meskipun aku tidak percaya dewa itu ada.”

“Manusia memang pintar dan bodoh. Mereka bisa menciptakan apapun dan bisa tidak percaya siapa penciptanya,” Athena kini berputar mengelilingi pohon apel.

“Apa maksudmu?” Isaac bertanya tak paham.

“Kau tidak perlu memahami kata-kataku Isaac. Yang terpenting adalah kini kau sedang berhadapan dengan Athena Dewi Kebijaksanaan.” Athena kembali ke posisi semula. “Dan perbuatanmu, meski kau tidak sengaja, kau akan mendapat hukuman karena itu.”

Isaac kini tenang. Namun ia mengerutkan kening dan bersiap menjawab. Belum sempat ia berkata, ia sudah disela oleh Athena.

“Katakan padaku Isaac, apakah kau pintar?” tanya Athena.

“Ya, setidaknya aku bisa berhitung lebih cepat daripada orang lain,” jawab Isaac.

“Hmm, sekarang katakan padaku, apakah kau sayang orang tuamu Isaac?” tanya Athena lagi.

“Pastinya aku sayang mereka, melebihi apapun,” jawab Isaac lagi, lebih keras.

“Nah. Kalau begitu, hukuman yang pas untukmu adalah menghitung dan menyimpulkan berapa percepatan jatuhnya apel ke tanah dan mengapa apel itu jatuh kebawah bukannya keatas,” Athena berdehem sebentar. “Aku akan buat kau tidak terlihat sampai kau bisa menyelesaikannya. Sebelum kau selesai kau tidak akan bisa terlihat dan kau akan menjadi penjaga di bukit ini. Dan ingat, kau sayang menyayangi orang tuamu bukan?”

Isaac mengamuk tidak terima, tapi tidak sempat. Athena sudah terbang dan menghilang diantara awan, di ujung cakrawala.

Isaac mengamuk ngamuk. Menendang ke sana-sini. Mengumpat kepada pemandangan yang indah. Dan tanpa disadarinya, apel yang tadinya terjatuh sudah berada kembali di dahannya.

Isaac meratapi harinya. Ia kembali duduk dibawah pohon. Menggenggam rambutnya.

Isaac melihat buku dan pensilnya. Terlihat gambarnya yang setengah jadi. Ia merobeknya dan membuangnya.

Isaac kemudian terpikir akan kata-kata Athena tadi. Jika ia tidak bisa menyelesaikannya maka ia akan menjadi penjaga disini tanpa bisa terlihat oleh orang biasa. Isaac bertambah marah.

Namun Isaac harus bisa menyelesaikannya. Isaac tidak mau harus menjadi penjaga sebuah bukit dengan pohon apel milik seorang dewi aneh yang pendendam. Maka Isaac pun kembali mengambil buku dan pensilnya.

Isaac berpikir sekeras mungkin dan sejernih mungkin. Isaac harus menghalau kemarahannya agar bisa menyelesaikan kegilaan ini.

Isaac menghitung selama berjam-jam. Berpindah posisi berkali-kali. Merobek kertas ketika ia salah. Mengumpat ketika kurang benar.

Beberapa menit, ia mengetahui akan kenapa buah apel itu terjatuh kebawah bukannya ke arah lain. Isaac menyimpulkan bahwa bumi memiliki sebuah gaya tarik menuju pusat atau inti bumi. Dimana gaya tarik bumi menarik benda bermassa di permukaan bumi sehingga tidak melayang-layang di langit. Kemudian Isaac menyebut hal ini dengan gravitasi bumi.

Masih dengan perhitungannya. Isaac masih berpikir keras, berusaha memecahkan dan menyelesaikan hukumannya. Isaac tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika ia menjadi penjaga bukit ini. Isaac berpikir, mungkin kalau ia tidak bisa menyelesaikannya, ia akan menjadi budak Athena seumur hidupnya. Isaac menolak hal itu, menurutnya orang berpendidikan sepertinya tidak pantas menjadi budak.

Isaac masih berkutat dengan bukunya. Namun tidak ada perkembangan. Isaac hanya berhasil memecahkan teori bukan angka. Ia menyerah. Ia berteriak kepada pemandangan di depannya. Kebetulan seorang nenek tua sedang berjalan dibawah bukit. Isaac menghampirinya. Isaac mengajak nenek tua itu berbicara, tapi seolah ia tidak ada apa-apa, nenek itu hanya diam. Isaac berteriak tepat di telinga nenek itu, tapi tetap ia hanya diam. Isaac menghadang nenek itu, tapi seperti tidak ada halangan, nenek itu berhasil melewati, menembus tubuhnya.

Isaac tersadar bahwa ia benar benar menghilang. Isaac kebingungan dan berlarian kesana kemari, berusaha keluar dari bukit itu. Namun hasilnya nihil. Isaac terjebak di bukit ber-apel itu.

Isaac putus asa. Kini ia tak lagi bisa bertemu ibunya, ayahnya, dan tetangganya. Isaac telah menjadi budak dari Athena.

Kesal berlarian kesana kemari, Isaac memutuskan duduk dibawah pohon. Ia tidak bisa apa-apa. Ia hanya bisa menangis tersedu-sedu. Ia memejamkan mata.

Tiba tiba, sebuah apel terjatuh ke kepala Isaac. Isaac tersadar dan membuka matanya. Kemudian ia menggosok kepalanya, sakit habis tertimpa apel. Di pangkuannya, bukunya dan pensilnya telah basah oleh air liur.

Isaac berdiri. Isaac melihat seorang nenek tua berjalan dibawah bukit. Isaac menghampirinya. Ia kemudian berkata pelan kepada nenek itu

“Nek,” sapanya.

“Lho, nak Isaac, sedang apa disini?” Tanya nenek itu.

Isaac tidak menjawab pertanyaan nenek itu. Ia malah meloncat girang dan berlarian keatas bukit. Isaac bahagia sekali karena semua yang terjadi tadi hanyalah sebuah mimpi. Mimpi yang menyeramkan, menurutnya.

Namun, Isaac tertarik untuk mengerjakan dan berpikir tentang mimpinya.

Karena ia sudah mengerti mengapa bisa sebuah apel jatuh kebawah, yaitu karena gravitasi, Isaac memutuskan untuk mencari tahu berapa percepatan terjatuhnya sebuah apel ke tanah. Isaac mulai berhitung, berpindah posisi kesana kemari, menyobek kertas, mencoret coret kertas dan mengemut pensilnya. Setelah berjam-jam, akhirnya ia berhasil menentukan seberapa percepatan jatuhnya apel tersebut.

Isaac kemudian menjadi terkenal di seluruh penjuru negeri. Namanya menjadi terkenal, baik di koran, majalah, ataupun plang-plang. Tidak disangkanya, bahwa mimpinya yang menyeramkan berhasil membuatnya terkenal. Dan teorinya sampai sekarang masih digunakan di dunia pendidikan.




Oleh Hannaphie Harrisse Haque. 

Januari, 2021.


Komentar

Postingan Populer